MAKNA KOMUNIKASI SIMBOLIK SENI TARI BUJA KADANDA DI SANGGAR SENI WADU NOCU PENANA’E KOTA BIMA

Ainul Yakin, Rahmi Rahmi, Yayu Rahmawati Mayangsari

Sari


Tujuan dari dilakukan penelitian ini yaitu untuk mengetahui makna komunikasi simbolik seni tari Buja Kadanda di sanggar seni Wadu Nocu Penana’e Kota Bima. Penelitian ini dilakukan di sanggar seni wadu Nocu Penana’e Kota Bima. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif . Data primer diperoleh dari sumber yang telah di wawancara mandalam kepada pihak yang telah di tentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, disertai observasi langsung di lapangan. Data sekunder diperoleh dari pengumpulan data dokumentasi mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, trasnkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen report, lager agenda dan sebagainya, yang berhubungan dengan topik penelitian. Data yang berhasil di kumpulkan kemudian di analisis dengan menggunakan analisis interaktif dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian yang penulis lakukan untuk mengungkap makna simbolik tari Buja Kadanda di sanggar seni Wadu Nocu Penana’e Kota Bima. Makna –makna tersebut dapat diamati dari gerak, iringan, tata rias dan tata busana yang digunakan pada tari Buja Kadanda. Tari buja kadanda bertemakan perjuangan, ada makna kekompakan yang ditunjukkan pada gerakan penyambutan. Gerakan silat (pembukaan ) mengandung makna kesatria, tanggung jawab. Gerakan inti melakukan gaya menggunakan tombak, bermakna keberanian, ketangkasan dan sebagai suatu gerakan kegagahan diri dalam melawan musuh. Gerakan penutup, bermakna memberikan tanda bahwa pertunjukkan tari Buja Kadanda akan segera berakhir. Makna iringan, makna kekompakan terlihat pada tetabuhan yang teratur. Busana Tari Buja Kadanda mengunakan pakaian prajurit (suba) melambangkan suatu karakter tokoh, meiliki makna kegagahan dan kesatriaan seorang prjurit. Nilai sosial dan Budaya, Sebagai Upacara sakral, Sebagai hiburan, Sebagai sarana pendidikan. Dapat di tarik kesimpulan dari makna yang terkandung dalam gerak, iringan, dan tata busana, bahwa tari Buja Kadanda dimaknai sebagai tarian pemberian apresiasi terhadap perjuangan dan ketangkasan prajurit dulu saat mempertahankan tanah Bima, sekaligus memberi pelajaran dan pengetahuan kepada generasi Bima, agar mejadi seorang lelaki harus bertanggung jawab, berani, gagah, dan mempunyai jiwa kesatria, dalam menangani situasi atau permasalahan yang besar.


Kata Kunci


Makna Simbolik, Komunikasi Budaya, Tari Buja Kadanda

Teks Lengkap:

PDF (English)

Referensi


Alisyahbana Sultan, (1975). Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jakarta: Yayasan Idayu.

Mulyana, Deddy. (2013). Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar. Bandung; Remaja Rosdakarya.

Moleong Lexi J, (2004). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mahasiswa STKIP Yapis Dompu (2020), “ Mengenal Tari Buja Kadanda Sebagai Tarian Tradisional Bima Dompu”. https://pusakapublik.com. Di akses 22 Februari 2021.

Nina Siti Salmaniah Siregar, (2011), “Kajian Tentang Interaksionisme Simbolik”. Jurnal Ilmu Sosial-Fakultas Isipol UMA, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Medan Area. Vol. 4 No. 2, Oktober 2011. Di akses 25 Februari 2021.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.